IMG-20260419-WA0010
Kabar Edukasi

STKIP Taman Siswa Bima Nahkodai Program Revitalisasi Pendidikan Karakter SD di Bima

Bima – Pendidikan karakter di Indonesia tengah menghadapi tantangan fundamental; jurang yang lebar antara penguatan akademik dengan penguatan karakter yang terinternalisasi dalam perilaku nyata di ruang kelas. Selama ini, karakter seringkali terjebak dalam batas-batas formalitas pembiasaan doa atau kesopanan, namun kerap mengabaikan “karakter kinerja,” seperti ketekunan, daya juang, efikasi diri, dan lainnya. Fenomena ini memicu lahirnya inisiatif baru di Kabupaten Bima, di mana 14 sekolah dasar penerima program revitalisasi satuan pendidikan akan memulai program penguatan karakter yang terintegrasi secara organik dalam budaya sekolah, revitalisasi sumber daya manusia sekolah.

Berdasarkan data awal yang dipetakan oleh tim LPTK STKIP Taman Siswa Bima yang bekerjasama dengan Dinas Dikbudpora Kab Bima serta di dukung oleh INOVASI NTB dan BPMP NTB, ditemukan fakta bahwa meskipun rutinitas harian bertema karakter banyak dilakukan. Mayoritas sekolah masih memprioritaskan pencapaian akademik. Sedangkan penguatan nilai-nilai karakter seringkali hanya dituntut dari siswa, sementara orang dewasa di lingkungan sekolah belum sepenuhnya menjadi teladan (modelling) yang konsisten.

Ketimpangan ini merupakan masalah sistemik yang juga disorot dalam laporan PISA dan Bank Dunia, di mana soft skills atau karakter non-kognitif terbukti berkorelasi langsung dengan kesuksesan jangka panjang di pasar kerja. Program di Bima ini tidak lagi menggunakan pendekatan top-down yang kaku, melainkan menggunakan Theory of Change (ToC) yang dimulai dari fase diagnostik partisipatif. Setiap sekolah melakukan refleksi internal untuk mengonfirmasi ‘karakter prioritas’ yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan masing-masing.

“Kolaborasi STKIP Taman Siswa Bima dengan Pemda Kab Bima yang didukung oleh BPMP NTB dan Program INOVASI NTB menginisiasi penguatan karakter berbasis ekosistem sekolah untuk mendorong penguatan nilai moral dan etos kerja warga sekolah.”

Lalu Ari Irawan, Koordinator Ekosistem Pendidikan Program INOVASI NTB, menekankan bahwa kunci keberlanjutan ada pada penguatan ekosistem sekolah yang berkelanjutan. “Kita sedang mempelajari dua fokus utama, penguatan pendidikan karakter dan pengembangan strategi peningkatan mutu layanan sekolah yang berkelanjutan. Langkah ini harus selaras hingga ke ranah pendidikan calon guru di kampus-kampus,” ujarnya secara virtual saat sesi sambutan, 18 April 2026. Hal ini mengisyaratkan bahwa reformasi karakter di sekolah juga harus dimulai dari bagaimana calon guru di LPTK dididik.

Secara metodologis, program ini beralih dari “pendidikan karakter berbasis instruksi” menuju “pendidikan karakter berbasis budaya”. Salah satu instrumen menarik yang diperkenalkan adalah penggunaan “Pohon Cinta” sebagai media evaluasi diri yang dipetik dari kunjungan ke salah satu madrasah piloting Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Lombok Barat. Guru didorong untuk menuliskan refleksi harian mengenai momentum kesadaran terkait karakter yang telah dialami sehari-hari. Pendekatan ini selaras dengan konsep Deep Learning yang menekankan pemahaman mendalam berdasarkan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Penguatan karakter bukanlah hafalan, melainkan dirasakan dan dipraktikkan sebagai identitas diri.

Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Ibnu Khaldun Sudirman, menyatakan komitmennya untuk menjadikan institusi akademis sebagai mitra strategis dalam pelatihan guru dan pengawas. “Dosen-dosen kami terus mendukung pelaksanaan pembelajaran mendalam (deep learning, red) dan siap bertransformasi dalam pengembangan pendidikan karakter yang inovatif,” tegasnya. Sinergi antara akademisi dan praktisi ini penting untuk memastikan setiap kebijakan berbasis pada data lapangan yang akurat (evidence-based policy).

Dari sisi regulasi, kehadiran Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima memberikan harapan akan lahirnya kebijakan daerah yang lebih suportif. Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Husnul Khatimah, menargetkan agar kualitas sekolah sasaran ini dapat merata. “Kita harapkan pengalaman dari program ini dapat menjadi bahan bagi pimpinan daerah mengeluarkan kebijakan baru yang mendukung peningkatan mutu pendidikan secara kolektif melalui penguatan karakter dan peningkatan kecakapan literasi numerasi peserta didik,” ungkapnya. Fokus pada lingkungan sekolah yang bersih dan sehat juga menjadi indikator fisik dari karakter tanggung jawab yang ingin dibangun.

Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi paska-pendampingan. Dengan peta jalan (roadmap) yang mencakup monitoring rutin sejak Mei 2026, program ini berupaya memutus rantai “program seremonial” yang biasanya hilang setelah anggaran habis. Jika model di 14 sekolah ini berhasil menunjukkan perubahan perilaku siswa yang signifikan, tidak hanya sopan dalam bicara tetapi juga tangguh dalam belajar, maka Kabupaten Bima berpotensi menjadi cetak biru nasional bagi penguatan karakter berbasis kemitraan daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *