PASAMAN BARAT -17-04-2026,Pasaman Barat 2025–2026 bergerak cepat. Menguasai 85% lahan sawit Sumatra Barat,punya garis pantai 152 km,hingga potensi energi panas bumi Talamau, daerah ini menjelma simpul strategis ekonomi nasional. Di tengah deru pembangunan Pelabuhan Teluk Tapang, ada satu komando yang memastikan kemajuan tak meninggalkan rakyatnya: Kapolres Pasaman Barat, AKBP Agung Tribawanto, S.I.K.
Perisai Investasi, Penjaga Rasa Aman
Bagi AKBP Agung, investasi adalah jembatan kesejahteraan. Polres Pasaman Barat di bawah kepemimpinannya bertindak sebagai Mitra Strategis Pemkab: mengawal Objek Vital Nasional, mengamankan Proyek Strategis, hingga menuntaskan konflik lahan secara berkeadilan. Praktik pungli diberantas, kepastian hukum ditegakkan.
> “Keamanan itu napas pembangunan. Kalau investor tenang dan hukum tegak lurus, ekonomi rakyat pasti bergerak,” ujar AKBP Agung.
Stabilitas yang ia jaga bukan sekadar angka statistik. Diwujudkan lewat patroli kawasan industri, mediasi konflik yang imparsial, dan penegakan hukum tanpa transaksional.
Menambal Celah Anggaran dengan Ketulusan
Ketika pembangunan berjalan lebih cepat dari ketersediaan anggaran, AKBP Agung memilih melampaui batas seragam. Masjid butuh atap, sekolah butuh pagar, jalan nagari rusak parah sementara APBD belum turun -ia menggerakkan yang ada: niat dan personel.
Bukan hanya memerintah. Ia turun langsung. Anggotanya berubah jadi tukang, jadi pengumpul donasi swadaya. Gotong royong dihidupkan kembali. Hasilnya nyata: sarana ibadah berdiri, fasilitas publik pulih, masyarakat merasakan negara hadir hari ini, bukan besok.
Polisi yang Duduk, Mendengar, Lalu Bertindak
AKBP Agung lebih sering ditemui di lapau, surau, dan pos ronda ketimbang di podium. Duduk sama rendah, mendengar sama sabar, lalu pulang membawa pekerjaan yang ia tuntaskan.
Pendekatan itu menumbuhkan modal sosial paling mahal: kepercayaan. Polres Pasaman Barat kini dipandang warga bukan sekadar kantor penegakan hukum, tapi posko solusi. Di level makro bicara hilirisasi dan stabilitas kawasan, di level tapak bicara air bersih dan lampu surau.
Warisan yang Tak Bisa Di-SPJ-kan
Kolaborasi jadi kata kunci Pasaman Barat 2026. Tegas mengawal investasi, tulus mengurai soal sosial. Harmoni itu langka, dan AKBP Agung menjaganya dengan cara yang tak semua orang mau: bekerja melampaui tupoksi, membangun dari keringat, mempertaruhkan nama demi warga.
> “Pangkat akan luntur, jabatan akan berganti. Tapi satu surau yang kita bangun dengan keringat, itu yang akan jadi saksi bahwa kita pernah benar-benar mengabdi,” tegas AKBP Agung.
Karya pengabdiannya tak tertulis di papan proyek, tapi hidup di masjid yang tak lagi bocor, di jalan nagari yang tak lagi becek, di hati warga yang merasa dilindungi. Pasaman Barat hari ini tak hanya meninggi infrastrukturnya, tapi juga menebal rasa saling percayanya.



