JEPARA — Di tengah ekspansi kuliner modern yang kian agresif, makanan tradisional tetap menunjukkan daya tahannya (19/04).
Salah satunya sego menir khas Jepara yang dijajakan Mak Aswati di kawasan Senenan Ngalas kecamatan Tahunan Jepara.
Warung sederhana ini sudah mulai beroperasi sejak selepas subuh dan langsung diserbu pembeli.
Warung Mak Aswati Menu utamanya berupa nasi menir disajikan dengan tumis daun pepaya, mie, tahu, serta sambal terasi yang menjadi penentu cita rasa, dalam sehari Nasi menir bisa menghabiskan sekitar 6 Kg belum nasi uduk dan menu lainnya,” ucap mas Aswati.
Kombinasi gurih dan pedas yang khas menjadikan menu ini tetap diminati lintas generasi.
Dengan harga hanya Rp3.000 per bungkus, sego menir Mak Aswati tidak sekadar murah, tetapi juga dikenal dengan tekstur yang pulen dan tidak lembek dengan cita rasa yang berbeda.
Bagi yang tidak memilih nasi menir, tersedia alternatif nasi uduk dan nasi putih atau menu tambahan lain.
Pilihan lauk dan jajanan lain turut melengkapi, mulai dari gethuk, gobet, ayam kecap, hingga aneka gorengan hangat yang memperkuat daya tarik warung ini sebagai pusat kuliner pagi.
Tingginya minat membuat pembeli harus datang lebih awal. Warung yang buka selepas subuh ini umumnya sudah habis sebelum pukul 07.30 WIB.
Antrean panjang bahkan menjadi pemandangan rutin, dengan waktu tunggu yang bisa mencapai hampir satu jam.
Berlokasi di Desa Senenan Ngalas, tepatnya di sisi timur SPBU Senenan Ngalas, dekat area pemakaman umum di depan bangunan gudang, warung ini juga menawarkan pengalaman makan yang berbeda.
Suasana persawahan dan aliran sungai di sekitarnya menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki kuliner di perkotaan.
Keberadaan sego menir Mak Aswati menegaskan bahwa kuliner tradisional tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bersaing.
Faktor rasa autentik, harga terjangkau, dan pengalaman sosial menjadi kombinasi yang sulit tergantikan oleh tren kuliner modern.
Reporter,
Umi



