Kabar Edukasi

KKN UMRI Kelompok 155 Gelar Pelatihan Branding dan Digital Marketing di Pondok Pesantren

BATHIN SOLAPAN – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) Kelompok 155 menggelar Pelatihan Branding dan Digital Marketing di Masjid Pondok Pesantren Muhammadiyah Nawawi Djamil, Desa Petani, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, Rabu (5/8/2026).

Kegiatan yang dimulai pada pukul 10.00 WIB tersebut merupakan salah satu program kerja KKN UMRI Kelompok 155 yang diarahkan untuk memberikan pengetahuan dan wawasan kepada para santri mengenai pentingnya membangun identitas produk serta memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai sarana pemasaran.

Pelatihan mengangkat tema “Membangun Merek, Memperluas Peluang”. Tema tersebut dipilih untuk memperkenalkan kepada para peserta bahwa sebuah produk tidak hanya membutuhkan kualitas, tetapi juga membutuhkan identitas yang jelas dan strategi pemasaran yang sesuai agar dapat dikenal oleh calon konsumen.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program kerja Kelompok 155 yang memiliki perhatian terhadap pengembangan UMKM, kewirausahaan, pengolahan produk, bisnis, serta penguatan jiwa santripreneur. Mahasiswa KKN berupaya menghubungkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan pesantren.

Pelatihan menghadirkan dua pemateri, yakni Serly Agustina Amin dan Ahmad Arya Aziz Polem. Kedua pemateri memberikan materi yang berkaitan dengan branding dan digital marketing kepada para peserta. Materi disampaikan sebagai bekal agar para santri dapat memahami cara membangun merek dan memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan produk maupun kegiatan usaha.

Dalam materi branding, peserta diperkenalkan dengan pentingnya identitas dalam sebuah produk. Branding tidak hanya berkaitan dengan nama atau logo, tetapi juga bagaimana sebuah produk memiliki karakter, nilai, dan ciri yang dapat membedakannya dari produk lain. Identitas yang kuat dapat membantu konsumen mengenali sebuah produk dan mengingatnya dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Pemahaman tersebut dinilai penting bagi santri yang memiliki ketertarikan terhadap kegiatan kewirausahaan. Ketika sebuah produk dikembangkan dari potensi lokal, diperlukan cara untuk memperkenalkan produk tersebut agar memiliki daya tarik di tengah banyaknya pilihan yang tersedia di pasaran.

Selain branding, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai digital marketing. Perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial memberikan peluang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pemasaran secara langsung. Media digital dapat dimanfaatkan untuk membangun komunikasi dengan calon konsumen, memperluas jangkauan promosi, dan menyampaikan informasi mengenai produk.

Melalui materi digital marketing, para santri diharapkan dapat melihat bahwa media sosial bukan hanya digunakan sebagai sarana hiburan dan komunikasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media untuk mengembangkan kegiatan usaha. Dengan pemanfaatan yang tepat, media digital dapat menjadi salah satu sarana yang mendukung proses pemasaran produk secara lebih luas.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mandau, Sekretaris Desa Petani, Pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Nawawi Djamil, serta mahasiswa KKN UIN Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau. Kehadiran berbagai pihak tersebut menjadi bagian dari dukungan dan kolaborasi dalam pelaksanaan kegiatan KKN di Desa Petani.

Ketua KKN UMRI Kelompok 155, Hafizorrahman, menyampaikan bahwa pelatihan tersebut diharapkan dapat memberikan bekal kepada para santri dalam mengembangkan potensi dan produk yang ada di lingkungan pesantren.

“Kami berharap pelatihan branding dan digital marketing ini dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada para santri untuk mengembangkan produk yang mereka miliki, mulai dari bagaimana membangun identitas produk hingga memanfaatkan media digital sebagai sarana pemasaran,” ujarnya.

Menurutnya, pengetahuan mengenai branding dan pemasaran digital dapat menjadi salah satu bekal bagi para santri untuk mengenal dunia kewirausahaan. Pengetahuan tersebut juga diharapkan dapat mendorong para santri untuk lebih berani melihat peluang dan mengembangkan kreativitas berdasarkan potensi yang tersedia di lingkungan sekitar.

Program santripreneur menjadi salah satu bagian yang berkaitan erat dengan pelaksanaan kegiatan tersebut. Melalui santripreneur, mahasiswa KKN Kelompok 155 ingin mendorong munculnya semangat kewirausahaan di kalangan santri. Santri diharapkan tidak hanya memahami proses pembuatan sebuah produk, tetapi juga mengenal tahapan lain yang diperlukan agar produk dapat dikembangkan menjadi peluang usaha.

Dalam dunia usaha, kemampuan menghasilkan produk perlu diikuti dengan kemampuan mengenalkan produk kepada masyarakat. Produk yang memiliki kualitas baik akan membutuhkan identitas dan strategi komunikasi yang tepat agar dapat menarik perhatian calon konsumen. Oleh karena itu, pemahaman mengenai branding dan digital marketing menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha.

Para peserta juga diajak untuk memahami bahwa peluang usaha dapat muncul dari hal-hal yang berada di sekitar mereka. Potensi bahan, keterampilan, kreativitas, serta kebutuhan masyarakat dapat menjadi dasar untuk menciptakan produk yang memiliki nilai tambah. Dengan melihat potensi tersebut secara lebih kreatif, lingkungan pesantren dapat menjadi tempat untuk menumbuhkan berbagai kegiatan produktif.

Pelatihan ini juga diharapkan dapat membuka wawasan peserta mengenai perubahan pola pemasaran pada era digital. Jika sebelumnya promosi lebih banyak dilakukan melalui cara konvensional, saat ini pelaku usaha dapat memanfaatkan berbagai platform digital untuk menjangkau calon konsumen. Perubahan tersebut membuat kemampuan membuat konten, menyampaikan informasi produk, membangun identitas merek, dan berkomunikasi dengan konsumen menjadi semakin penting.

Mahasiswa KKN Kelompok 155 berupaya menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga pengetahuan mengenai branding dan digital marketing dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat dikembangkan melalui praktik dan pengalaman.

Kegiatan pelatihan juga memberikan gambaran bahwa membangun sebuah usaha membutuhkan proses yang bertahap. Sebelum sebuah produk dipasarkan, pelaku usaha perlu memahami siapa calon konsumennya, apa kebutuhan mereka, serta bagaimana produk tersebut dapat memberikan manfaat. Setelah itu, identitas produk perlu dibangun agar mudah dikenali. Tahap berikutnya adalah memilih cara promosi yang sesuai dengan karakter konsumen dan media yang digunakan.

Pemahaman seperti ini menjadi penting bagi santri karena kewirausahaan tidak selalu harus dimulai dengan usaha dalam skala besar. Sebuah ide sederhana dapat dikembangkan apabila dilakukan dengan perencanaan yang baik, kemauan belajar, dan konsistensi. Lingkungan pesantren juga dapat menjadi tempat untuk belajar mengelola kegiatan produktif secara bersama-sama.

Branding dapat membantu sebuah produk memiliki pembeda. Nama, logo, kemasan, cara menyampaikan informasi, hingga pengalaman konsumen dapat menjadi bagian dari identitas sebuah merek. Karena itu, peserta didorong untuk memperhatikan bagaimana sebuah produk ditampilkan kepada masyarakat. Tampilan yang menarik perlu didukung dengan informasi yang jelas agar calon konsumen memahami produk yang ditawarkan.

Sementara itu, digital marketing memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk berkomunikasi secara langsung dengan calon konsumen. Konten digital dapat digunakan untuk memperkenalkan produk, menunjukkan proses pembuatan, menyampaikan keunggulan, dan membangun hubungan dengan pelanggan. Pemanfaatan media digital juga memungkinkan promosi dilakukan dengan jangkauan yang lebih luas dibandingkan hanya mengandalkan lingkungan sekitar.

Bagi para santri, wawasan tersebut diharapkan dapat menjadi pengetahuan tambahan yang dapat diterapkan ketika mereka memiliki ide usaha. Mereka dapat mulai belajar membuat identitas produk, mengambil gambar produk dengan baik, menyusun informasi yang menarik, serta memanfaatkan media sosial secara bijak. Proses tersebut dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dan sumber daya yang tersedia.

Mahasiswa KKN UMRI Kelompok 155 juga berharap kegiatan ini dapat mendorong peserta untuk lebih percaya diri dalam mengembangkan ide. Kewirausahaan membutuhkan keberanian untuk mencoba, mengevaluasi hasil, dan melakukan perbaikan. Dengan adanya pemahaman mengenai branding dan digital marketing, peserta diharapkan memiliki gambaran mengenai langkah yang dapat dilakukan ketika ingin membawa sebuah produk kepada masyarakat.

Dari sisi pengembangan UMKM, pengetahuan tersebut juga dapat membantu pelaku usaha dalam menghadapi persaingan. Saat ini konsumen memiliki banyak pilihan produk. Karena itu, produk perlu memiliki keunggulan yang dapat dikomunikasikan dengan baik. Identitas merek dan strategi pemasaran yang tepat dapat membantu sebuah usaha membangun kepercayaan serta meningkatkan daya kenal produk.

Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa pengembangan kewirausahaan dapat dilakukan melalui kolaborasi. Mahasiswa membawa pengetahuan dan pengalaman, pemateri memberikan wawasan, pihak pondok menyediakan ruang serta peserta, sedangkan pemerintah desa dan pihak terkait dapat mendukung keberlanjutan program. Kerja sama tersebut menjadi modal penting agar kegiatan pemberdayaan tidak berhenti pada satu kali pertemuan.

Dengan adanya kegiatan Pelatihan Branding dan Digital Marketing, mahasiswa KKN UMRI Kelompok 155 berharap para santri dapat memiliki sudut pandang baru terhadap dunia usaha. Santri dapat melihat bahwa kemampuan berwirausaha dapat berjalan berdampingan dengan kegiatan pendidikan dan kehidupan di pesantren. Pengetahuan mengenai bisnis, branding, dan pemasaran juga dapat menjadi keterampilan tambahan yang bermanfaat untuk masa depan.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman bagi mahasiswa dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat. Melalui program yang disusun berdasarkan potensi dan kebutuhan lingkungan, mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi dalam situasi nyata. Interaksi dengan para santri dan pihak pesantren juga menjadi bagian dari proses belajar bersama.

Ke depan, pengetahuan yang telah disampaikan diharapkan dapat dilanjutkan melalui praktik pengembangan produk dan pemasaran. Jika terdapat produk yang ingin dikembangkan oleh santri atau lingkungan pesantren, materi branding dapat digunakan untuk menentukan identitas produk, sedangkan pengetahuan digital marketing dapat dimanfaatkan untuk memperluas promosi. Dengan demikian, pelatihan dapat menjadi dasar untuk kegiatan lanjutan yang lebih aplikatif.

KKN UMRI Kelompok 155 berharap seluruh pihak yang terlibat dapat terus menjaga komunikasi dan kerja sama. Dukungan dari pemerintah desa, pihak pesantren, organisasi Muhammadiyah, mahasiswa, dan masyarakat akan membantu menciptakan lingkungan yang mendukung kegiatan kewirausahaan. Semangat tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi kegiatan produktif yang memiliki manfaat ekonomi dan sosial.

Melalui pelatihan ini, para santri diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi digital, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk kegiatan yang menghasilkan manfaat. Media digital dapat digunakan untuk belajar, membangun jaringan, memperkenalkan karya, dan mengembangkan peluang usaha. Pemanfaatan teknologi secara positif menjadi salah satu kemampuan yang relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini.

Pada akhirnya, program Pelatihan Branding dan Digital Marketing menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi KKN UMRI Kelompok 155 dalam mendorong pengembangan keterampilan santri. Dengan pengetahuan yang diperoleh, peserta diharapkan mampu mengembangkan kreativitas, mengenali peluang, serta memiliki semangat untuk mencoba dan terus belajar. Program tersebut diharapkan dapat menjadi pengalaman yang bermanfaat dan memberikan nilai tambah bagi lingkungan Pondok Pesantren Muhammadiyah Nawawi Djamil dan Desa Petani.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian program kerja KKN UMRI Kelompok 155 selama melaksanakan pengabdian di Desa Petani. Dengan dukungan Pemerintah Desa, pihak pondok pesantren, PCM Mandau, mahasiswa KKN UIN Suska Riau, pemateri, dan para peserta, pelaksanaan program diharapkan dapat berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Pelatihan Branding dan Digital Marketing menjadi salah satu langkah KKN UMRI Kelompok 155 dalam memperkenalkan pentingnya branding, pemasaran digital, dan kewirausahaan kepada para santri. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berharap ilmu yang diperoleh peserta dapat diterapkan secara berkelanjutan untuk mendukung pengembangan produk, UMKM, dan semangat santripreneur di lingkungan pesantren.

Penulis: Suci Rahmadani Oktavia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *