Pada 12 April 2026 lalu, kami tiba di Kampung Adat Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kunjungan ini merupakan bagian dari mini riset mata kuliah Antropolinguistik tentang bahasa, masyarakat, dan alam yang saya lakukan bersama dua rekan lainnya Syarifuddin, dan Joni Soleman Nalenan di bawah bimbingan Prof. Dr. Retty Isnendes, S.Pd., M.Hum dan Isti Siti Saleha Gandana, M.Ed., Ph.D sebagai dosen pengampu. Dari sekian banyak informasi tentang kampung adat yang kami peroleh dari Abah Anom sebagai kuncen, abdi dalam, maupun guide lapangan, ada satu kata yang sangat menarik perhatian. Ajrih.
Apa Itu Ajrih?
Dalam bahasa Sunda, ajrih berarti segan, malu, atau tidak berani menolak. Bukan rasa takut namun penghormatan yang tumbuh dari dalam yang meliputi hormat kepada sesepuh, kepada adat, kepada ruang-ruang yang dianggap suci. Guide kami mengkonfirmasi hal ini dengan menyatakan bahwa masyarakat Cikondang masih menerapkan ajrih dalam kehidupan hingga kini. Menariknya, ajrih bukan sekadar kata. Penelitian oleh Nuryanto (2021) tentang arsitektur rumah panggung Sunda menemukan filosofi rengkuh ajrih ka pribumi (sopan santun kepada pemilik rumah) yang termanifestasi dalam melalui desain teras rumah. Atap teras rumah (sorondoy) sengaja dibuat lebih rendah dari tinggi orang dewasa, yang membuat setiap tamu harus membungkukkan kepala saat masuk seolah memberi hormat. Dalam hal ini, ajrih termanifestasi dalam wujud fisik arsitektur untuk memandu tubuh ber-ajrih. Lebih jauh, Nuryanto menegaskan bahwa ajrih ka sasama (menjunjung tinggi tatakrama kepada siapa pun) merupakan satu dari tiga pilar nilai hidup masyarakat Sunda selain basajan (kesederhanaan) dan handap asor (kerendahan hati).
Ajrih dalam Sejarah Panjang Sunda
Ajrih telah hidup sejak berabad-abad lalu, jauh sebelum ada definisi tentangnya. Dalam sastra klasik Sunda, Wawacan Simbar Kancana tertulis bait kuno “soantenna komaraan, matak ajrih nu nguping” yang maknanya kewibawaan seseorang begitu memancar hingga siapa pun yang mendengarnya merasakan ajrih (Ropiah & Ruhaliah, 2015). Tokoh Raden Panglurah dalam babad klasik ini pun diceritakan rela bertapa selama tujuh tahun karena tidak berani menolak perintah sang ayah. Persis seperti yang disampaikan guide kami. Segan, tidak berani menolak.
Ajrih yang Hidup di Cikondang
Di Cikondang, ajrih tampak dalam keseharian. Warga tidak sembarangan memasuki rumah adat, ada hari-hari yang mereka hormati, dan ada kondisi-kondisi yang membuat seseorang harus menahan diri. Seorang warga mengungkapkan “Kita mengikuti saja aturan leluhur. Kalau sepuh bilang jangan, ya jangan. Kalau dilanggar suka ada akibatnya.”. Dalam hal ini, tidak perlu perlawanan, tidak perlu negosiasi. Cukup kepatuhan yang lahir bukan dari paksaan, namun dari rasa. Fenomena serupa didokumentasikan oleh Wiwin (2018) pada masyarakat Sunda di Cianjur. Hadirin serentak berdiri saat tokoh agama yang sangat dihormati hadir dalam sebuah pertemuan. Tubuh dengan sendirinya membungkuk, kepala menunduk “dalam sikap ajrih” sekalipun tidak ada yang memerintah, karena ajrih telah menjadi bagian dari cara seseorang hadir di hadapan yang lebih dihormati.
Lebih dari Segan, Lebih dari Takut
Yang paling menarik dari ajrih adalah bukan rasa takut yang pasif. Ajrih tidak mengerdilkan seseorang, justru mendisiplinkan. Ajrih mengajarkan bahwa komunitas, leluhur, alam, dan ruang-ruang yang telah dijaga jauh sebelum kita ada adalah sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Mungkin karena alasan inilah kata ini sulit diterjemahkan secara literal. Bukan takut, bukan malu, bukan juga sekadar sungkan. Ajrih lebih kepada kesadaran diri yang bekerja secara sosial. Dengan kata lain, ajrih adalah rem internal yang membuat seseorang tahu kapan ia harus diam, kapan harus membungkuk, dan kapan harus mengatakan “iya” meski di hati dan kepala mungkin hadir banyak pertanyaan.
Kunjungan singkat kami saat itu tentu saja belum cukup untuk membedah ajrih secara menyeluruh. Hal ini merupakan pembacaan awal, sebagai undangan untuk riset yang lebih dalam. Namun satu hal yang kami bawa pulang bahwa nilai hidup seperti ajrih adalah kecerdasan sosial yang sudah teruji berabad-abad di tanah Sunda, dan masih berdenyut termasuk di Kampung Adat Cikondang.



