IMG-20260429-WA0015
Kabar Edukasi

Rukmini Pimpin Transformasi Karakter di SDN Dadibou Melalui Inovasi Program MA TUPA

Bima – Di saat banyak institusi pendidikan terjebak dalam rutinitas administratif, SDN Dadibou di Kecamatan Woha justru memilih berhadapan dengan realitas pahit mengenai kesadaran akan kedisiplinan dan kepedulian lingkungan. Sebagai solusi dari tantangan tersebut, Kepala SDN Dadibou, Rukmini, S.Pd., yang didampingi oleh pengawas Ni Made Sutini, S.Pd., mengkonsepkan program “MA TUPA” (Mandiri, Amanah, Tertib, Unggul, Peduli, Akuntabel). Program tersebut lahir dari hasil diskusi reflektif, pengawas pendamping, kepala sekolah, dan guru, sebagai jawaban konkret atas evaluasi internal yang menunjukkan adanya inkonsistensi perilaku warga sekolah.

Inisiatif ini menjadi krusial karena melampaui sekadar slogan pendidikan; ia merupakan upaya sistematis untuk menjahit kembali robekan karakter yang sempat memudar akibat kurangnya keteladanan dan pengawasan. Dengan mengakar pada filosofi lokal Bima, program ini memposisikan sekolah bukan hanya sebagai ruang transfer ilmu, melainkan inkubator moral yang bertujuan melahirkan generasi berintegritas tinggi melalui pendekatan yang terukur dan berkelanjutan.

Berdasarkan analisis reflektif yang dilakukan pihak sekolah, terungkap lima kendala utama yang selama ini menghambat budaya positif, mulai dari ketidakhadiran guru yang tepat waktu hingga rendahnya partisipasi masyarakat sekitar. Menanggapi data tersebut, SDN Dadibou kini menetapkan standar baru di mana kepala sekolah, guru, dan siswa wajib hadir paling lambat pukul 07.10 WITA untuk memulai hari dengan budaya Sapa, Salam, dan Senyum di gerbang sekolah.

“Kami menyadari bahwa perubahan tidak bisa terjadi jika keteladanan tidak menjadi fondasi utama. Pendidik harus menjadi teladan hidup atas nilai-nilai yang mereka ajarkan kepada siswa,” ujar Rukmini, S.Pd., saat menjelaskan komitmen para pengajar untuk memimpin perubahan perilaku dari lini terdepan.

Salah satu instrumen inovatif yang diperkenalkan adalah ‘Pohon Kejujuran’. Sebuah media refleksi transparan yang ditempatkan di lingkungan sekolah. Di sini, setiap individu berhak menuliskan tindakan positif yang dilakukan atau memberikan apresiasi atas kejujuran orang lain. Hal ini menjadi langkah psikologis untuk menumbuhkan rasa saling menghargai dan introspeksi diri yang selama ini jarang terwadahi secara formal.

Pengawas Sekolah, Ni Made Sutini, S.Pd., yang turut mendampingi peluncuran ini, menegaskan bahwa monitoring akan dilakukan secara berkala untuk memastikan program tidak berhenti pada seremoni peluncuran. Indikator keberhasilan telah ditetapkan secara spesifik, mencakup tingkat ketepatan waktu, volume sampah plastik di area sekolah, hingga kualitas refleksi harian yang dituliskan pada media yang tersedia.

Secara teknis, sekolah membagi tanggung jawab kebersihan melalui ‘Operasi Semut MA TUPA’ dan menghidupkan kembali identitas daerah lewat ‘Jumat Berbudaya’ yang mewajibkan penggunaan Bahasa Bima yang santun. Melalui skema ‘MA TUPA of The Week’, apresiasi mingguan diberikan bagi mereka yang menunjukkan konsistensi dalam tiga pilar utama: disiplin, peduli, dan integritas.

Keterlibatan eksternal juga diperkuat melalui program ‘Sabtu Sambang’ untuk menyinergikan pola asuh di rumah dengan aturan sekolah, serta menghadirkan tokoh masyarakat dalam sesi inspirasi moral. Langkah kolaboratif ini diambil untuk menambal celah kurangnya kepedulian orang tua dan masyarakat yang sebelumnya teridentifikasi sebagai hambatan signifikan bagi perkembangan karakter anak.

Upaya SDN Dadibou ini mencerminkan pergeseran paradigma pendidikan yang lebih membumi, di mana standar akademik tetap berjalan beriringan dengan penguatan adab. Dengan menyandarkan diri pada prinsip ‘MA TUPA akarnya Maja Labo Dahu, batangnya integritas, buahnya adab’, sekolah ini berambisi menciptakan ekosistem di mana nilai-nilai lokal mampu menjawab tantangan global.

“MA TUPA akarnya Maja Labo Dahu, batangnya integritas, buahnya adab. Pendidikan karakter harus berakar pada budaya lokal dan tumbuh melalui keteladanan nyata.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *