Ignatius Jonan Bertemu Presiden Prabowo Subianto
Kabar Politik

Menari di Gendang Sendiri, Sumringah Ignasius Jonan setelah bertemu Presiden Prabowo

Menari di Gendang Sendiri, Sumringah Ignasius Jonan setelah bertemu Presiden Prabowo

Oleh: Erizal

Sumringah sekali Ignasius Jonan setelah bertemu Presiden Prabowo selama dua jam di Istana. Ia tak putus-putus melempar senyum di depan wartawan, seolah mendapatkan sesuatu.

Tapi saat ditanya, tak ada jawaban pasti yang diperoleh wartawan. Ia lebih banyak menjawab: “nggak, nggak, dan nggak tahu”.

Apa yang disampaikannya; isi dari pertemuan dengan Presiden berbeda dengan apa yang ingin diketahui wartawan dan publik luas.

Apa lagi kalau bukan soal kereta cepat Whoosh yang lagi viral itu. Jonan justru memuji kiprah Presiden di luar negeri dan program-program pro-rakyat yang ia sebut penjelmaan dari keadilan sosial.

Presiden Prabowo memang terlihat tak sekali dua kali bertemu dengan orang yang ahli di bidangnya. Apalagi, saat menghadapi masalah yang krusial.

Dulu Presiden Prabowo bertemu mantan Wapres Jusuf Kalla saat heboh kasus Gas Elpiji 3Kg. Meski berbeda haluan politik ketika Pilpres lalu, Presiden tak melihat itu.

Semua orang tahu bahwa Jusuf Kalla-lah di balik suksesnya peralihan dari minyak tanah ke Gas Elpiji 3Kg itu.

Saat ini justru rakyat tergantung dengan Gas Elpiji 3Kg. Padahal itu gas subsidi dan seperti barang subsidi lainnya, dianggap tidak tepat sasaran.

Dan ajaibnya, usai bertemu Jusuf Kalla itu masalah yang menghebohkan seputar Gas Elpiji 3Kg itu seperti teratasi.

Bertemu Ignasius Jonan, tentu publik juga berharap supaya Pemerintah menemukan solusi terbaik terhadap masalah yang sedang dihadapi kereta cepat Whoosh.

Tapi alangkah kecewanya publik, karena tak satupun keterangan yang disampaikan Jonan, setelah bertemu Presiden di Istana, yang berkaitan dengan kereta cepat Whoosh itu.

Malah diskusi dengan Jonan lebih banyak terkait soal prestasi Presiden di luar negeri, program MBG, Koperasi Merah Putih, Sekolah Rakyat, dan lain-lain. Rasanya program-program itu bukanlah pengalaman atau keahlian seorang Ignasius Jonan selama ini.

Ignasius Jonan terlalu melekat dengan soal kereta api di Republik ini. Ingat Jonan, ingat kereta api. Sebaliknya ingat kereta api, ingat Jonan

Tak banyak orang yang seperti itu. Sebab dialah yang mengubah wajah perkeretaapian kita dari buruk menjadi baik; kumuh menjadi bersih; tak layak menjadi layak; rugi menjadi untung; dan lain sebagainya.

Jadi, kalau Presiden bertemu Jonan diskusi soal geopolitik, MBG, Koperasi Merah Putih, Sekolah Rakyat, rasanya mustahil. Sepintas mungkin, tapi selama dua jam, terlalu kepanjangan. Apalagi bersamaan dengan Jonan, dipanggil pula Dirut PT KAI dan Menko AHY.

Hanya Ignasius Jonan saja yang tak bicara soal kereta cepat Whoosh setelah bertemu Presiden Prabowo. Dirut PT KAI dan Menko AHY bicara seadanya pula.

Bahwa terkait utang kereta cepat Whoosh sedang dibicarakan Pemerintah bersama Danantara. Semua opsi sudah dibuat, tapi kenapa hanya Jonan yang tak bicara kereta cepat Whoosh?

Bahkan, Jonan menganggap Presiden sudah punya pemikiran sendiri untuk menyelesaikan masalah itu. Ia mengaku tak ditanya soal itu. Jonan memang terlalu politis kalau bicara soal kereta cepat Whoosh itu. Sebab, ia Menteri Perhubungan yang tak setuju saat itu, lalu dipecat.

Ignasius Jonan tak hanya politis terkait kereta cepat Whoosh, tapi juga rada-rada menarik. Sebab dipecat sebagai Menteri Perhubungan karena dianggap tak setuju dengan proyek kereta cepat Whoosh saat itu, tapi diberi posisi yang lebih basah sebagai Menteri ESDM. Posisinya naik kelas bukan turun kelas.

Jadi publik tak terlalu mempersoalkan, kecuali mereka yang paham saja seperti pengamat ekonomi Faisal Basri dan pengamat transportasi Agus Pambagio ketika itu.

Beda dengan Anies Baswedan yang berbeda dan dipecat sebagai Mendikbud, tapi tak diberikan kompensasi apa-apa lagi. Padahal mantan jubir tim kampanye Jokowi-JK saat itu.

Apakah Ignasius Jonan akan diberi posisi tersendiri oleh Presiden Prabowo? Ia juga tak mengaku. Tapi saat didesak terus wartawan, ia menjawab normatif: “Setiap warga negara, kalau ditugaskan, selama saya bisa, saya pasti mau sih, kalau saya bisa, “ujar Jonan.

Tapi agaknya memang tak ada posisi yang ditempati Jonan dalam waktu dekat ini. Pertemuan dengan Presiden itu memang membicarakan soal kereta api, khususnya kereta cepat Whoosh, tapi Jonan tak diperkenankan untuk membicarakannya di depan publik, karena akan terkesan politis dan mengarah ke Presiden sebelumnya, yakni Jokowi.. Agaknya itu yang dihindari pihak istana.

Presiden Prabowo terlihat makin canggih berpolitik. Ia tak mau terbawa arus, apalagi terjebak oleh arus yang dibuat pihak lain. Ia membuat arus sendiri atau mengendalikan arus yang sudah ada yang cenderung mengganggu. Menari di gendang sendiri.

Ignasius Jonan dibuat naik panggung, tapi di panggung hanya cengar-cengir saja sambil senyam-senyum simpul penuh makna.

Besoknya, malah Presiden Prabowo berpidato di hadapan stakeholder perkeretaapian dan lantang mengatakan akan tanggung jawab utang Whoosh dan menambah suntikan dana untuk kemajuan PT KAI kita.

Masalah Projo atau Budi Arie atau juga Jokowi yang sedang bermanuver tajam, sedikitpun tak ditanggapi oleh Presiden Prabowo. Canggih memang dan mungkin ada yang kecewa juga (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *