Samsudin, M. Or
Dosen PJKR STKIP Taman Siswa Bima
Bima, NTB – Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB XII 2026 telah usai. Ajang olahraga terbesar di tingkat provinsi ini bukan sekadar menentukan juara umum, tetapi juga menjadi cermin keberhasilan pembinaan olahraga di setiap daerah. Berdasarkan hasil akhir, Kota Mataram tampil sebagai juara umum dengan raihan 205 medali emas, disusul Lombok Tengah (117 emas), Lombok Barat (74 emas), Sumbawa Barat (64 emas), Lombok Timur (63 emas), Sumbawa (54 emas), Kota Bima (45 emas), Dompu (44 emas), Kabupaten Bima (16 emas), dan Lombok Utara (15 emas).
Bagi Kabupaten Bima, posisi kesembilan dengan raihan 16 medali emas tentu belum memenuhi harapan banyak pihak. Padahal, daerah ini selama bertahun-tahun dikenal memiliki potensi atlet yang mampu bersaing di berbagai cabang olahraga. Hasil tersebut menunjukkan bahwa potensi yang dimiliki belum sepenuhnya mampu diterjemahkan menjadi prestasi yang optimal di tingkat daerah.
Porprov bukan sekadar ajang mengumpulkan medali. Lebih dari itu, kompetisi ini merupakan salah satu indikator untuk menilai sejauh mana proses pembinaan olahraga berjalan di setiap daerah. Raihan prestasi tidak lahir dalam waktu singkat, melainkan merupakan hasil dari proses yang panjang, mulai dari pembinaan atlet usia dini, kompetisi yang berjenjang, peningkatan kapasitas pelatih, ketersediaan sarana dan prasarana, tata kelola organisasi olahraga, hingga konsistensi dukungan kebijakan dan anggaran dari pemerintah daerah.
Jika dibandingkan dengan daerah lain, capaian Kabupaten Bima masih tertinggal cukup jauh. Kota Mataram mengoleksi lebih dari dua ratus medali emas, sementara Kabupaten Bima memperoleh 16 medali emas. Kota Bima dan Dompu juga mencatat raihan yang lebih tinggi, masing-masing dengan 45 dan 44 medali emas. Perbandingan tersebut mengindikasikan bahwa keberhasilan olahraga tidak semata ditentukan oleh luas wilayah atau jumlah penduduk. Faktor-faktor seperti kualitas pembinaan, kesinambungan kompetisi, tata kelola organisasi, serta dukungan kebijakan daerah sangat mungkin turut memengaruhi capaian prestasi.
Namun demikian, hasil ini tidak sepatutnya menjadi alasan untuk menyalahkan para atlet. Mereka telah berjuang membawa nama daerah dengan kemampuan, semangat, dan pengorbanan yang patut diapresiasi. Karena itu, evaluasi sebaiknya lebih diarahkan pada penguatan sistem pembinaan daripada menyalahkan individu yang berada di garis depan pertandingan.
Prestasi olahraga pada hakikatnya merupakan akumulasi dari proses yang berlangsung selama bertahun-tahun. Ketika hasil yang dicapai belum sesuai harapan, momentum ini dapat dimanfaatkan untuk meninjau kembali efektivitas pembinaan atlet usia dini, pelaksanaan kompetisi secara berjenjang, pengembangan sumber daya pelatih, serta tata kelola organisasi olahraga. Evaluasi yang dilakukan secara jujur dan objektif akan menjadi dasar penting dalam menyusun langkah perbaikan yang lebih terarah.
Sudah saatnya Kabupaten Bima membangun ekosistem olahraga yang berkelanjutan. Pembinaan tidak boleh dimulai hanya menjelang Porprov. Pencarian dan pembinaan bakat perlu dilakukan sejak usia sekolah melalui kompetisi yang rutin dan terstruktur. Klub olahraga perlu diperkuat, pelatih perlu memperoleh peningkatan kompetensi secara berkelanjutan, fasilitas latihan harus terus ditingkatkan, dan dukungan anggaran hendaknya diarahkan pada program pembinaan jangka panjang yang memiliki target dan ukuran keberhasilan yang jelas.
Selain itu, sinergi antara pemerintah daerah, KONI Kabupaten Bima, dinas terkait, sekolah, perguruan tinggi, induk organisasi cabang olahraga, sektor swasta, dan masyarakat perlu terus diperkuat. Prestasi olahraga tidak mungkin dibangun oleh satu lembaga saja, melainkan melalui kolaborasi yang berkelanjutan dengan visi yang sama untuk melahirkan atlet-atlet berprestasi.
Porprov NTB XII 2026 hendaknya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar catatan statistik. Hasil ini dapat dijadikan bahan evaluasi untuk memperkuat sistem pembinaan olahraga secara menyeluruh. Kabupaten Bima memiliki potensi sumber daya manusia yang tidak kalah dengan daerah lain. Tantangan ke depan bukan lagi mencari alasan atas capaian yang belum maksimal, melainkan membangun tata kelola olahraga yang lebih profesional, pembinaan yang berkesinambungan, serta komitmen bersama untuk menjadikan prestasi sebagai hasil dari proses yang terencana dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, masyarakat Kabupaten Bima tentu berharap para atlet tidak hanya tampil dengan semangat juang yang tinggi, tetapi juga memperoleh dukungan melalui sistem pembinaan yang kuat dan berkesinambungan. Potensi yang dimiliki daerah ini masih sangat besar. Dengan evaluasi yang objektif, komitmen yang konsisten, dan kerja sama seluruh pemangku kepentingan, Kabupaten Bima memiliki peluang untuk kembali menjadi salah satu kekuatan olahraga yang diperhitungkan di Nusa Tenggara Barat pada masa mendatang.



