IMG-20260202-WA0034
Kabar Ekonomi

Kapitalisme dan Globalisasi Karya, Yoshihara Kunio dan Baswir (2009)

Kapitalisme dan Globalisasi,
Karya Yoshihara Kunio dan Baswir (2009)

Oleh: Syafrudin Budiman SIP
(Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Ilmu Politik Universitas Nasional)

Bab I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah

Kapitalisme berkembang sebagai sistem ekonomi dan sosial yang didorong oleh beberapa faktor historis. Gerakan Liberalisme (abad ke-18/19) Muncul sebagai reaksi terhadap sistem ekonomi feodal, mempromosikan kebebasan individu dalam memiliki alat produksi dan melakukan perdagangan. Revolusi Industri menciptakan cara produksi massal dan memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi, yang mempercepat akumulasi kapital, semangat Negara-Bangsa dorongan negara untuk menguasai sumber daya melalui kolonialisme kapitalisme di berbagai belahan dunia. Orientasi pasar fokus pada efisiensi, keuntungan pribadi, dan akumulasi modal yang terus menerus. Sedangkan Globalisasi ekonomi terjadi karena perluasan sistem kapitalis yang didukung oleh perkembangan teknologi, kemajuan pesat dalam teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi memudahkan konektivitas antarnegara. Ekonomi liberal, kebijakan negara-negara yang membuka diri terhadap investasi asing dan perdagangan internasional.
Keterkaitan Kapitalisme dan Globalisasi bekerja bersama dalam menciptakan “kapitalisme global” Perluasan pasar kapitalisme membutuhkan pasar baru untuk mengatasi kejenuhan pasar domestik, yang difasilitasi oleh globalisasi. Dalam konteks Indonesia, kapitalisme dan globalisasi berakar dari sejarah kolonial, diteruskan era Orde Baru yang berorientasi pasar, dan menguat pasca-reformasi 1998 melalui liberalisasi ekonomi. Untuk mengetahui lebih lanjut terkait ciri, factor pendukung, dan relevansi kapitalisme semu terhadap era sekarang, begitu pun inti pokok globalisasi menurut Baswir (2009), lebih lanjut di bab berikutnya.

Bab II Pembahasan

1.2. Ciri Pokok dan Faktor Pendukung Kapitalisme di Asia Tenggara

1. Dominasi Pemburu Rente (Rent-Seekers), Kapitalis di Asia Tenggara lebih banyak memperoleh keuntungan melalui hubungan dekat dengan penguasa, lisensi impor, monopoli, atau konsesi, daripada melalui produktivitas atau inovasi.
2. Lemahnya Basis Industri Teknolog, Kapitalisme ini tidak didorong oleh perkembangan teknologi domestik. Industri cenderung bergantung pada lisensi teknologi asing dan tidak melakukan penelitian dan pengembangan (R&D) yang signifikan.
3. Dominasi Sektor Tersier/Dagang, Kapitalis semu lebih suka berinvestasi di sektor perdagangan, properti, atau jasa yang memberikan keuntungan cepat, daripada di sektor manufaktur yang butuh modal besar dan berisiko tinggi.
4. Ketergantungan pada Modal Asing, Industri dalam negeri sangat bergantung pada investasi asing (FDI) dan bahan baku impor, sehingga tidak mandiri.
5. Dominasi Etnis Tionghoa, Yoshihara menyoroti peran kapitalis Tionghoa yang dominan, namun seringkali mereka terdiskriminasi secara politik, sehingga harus bekerja sama dengan birokrat pribumi yang kuat untuk melindungi bisnisnya.
Faktor Pendukung Kapitalisme Semu Menurut Yoshihara Yakni:
1. Intervensi negara yang rendah kualitasnya, pemerintah ikut campur dalam ekonomi bukan untuk menciptakan pasar yang kompetitif, melainkan untuk membagi-bagikan hak istimewa kepada kroni atau pengusaha tertentu.
2. Patronase dan Korupsi (Cronysim), hubungan erat antara pengusaha (kapitalis) dan penguasa (birokrat/militer). Pengusaha memberikan dukungan finansial ke penguasa, dan sebagai imbalannya, mereka mendapatkan perlindungan dan kemudahan bisnis.
3. Kelemahan Modal Pribumi (Indigenous Capital), pengusaha pribumi pada masa itu cenderung lemah dalam permodalan dan keahlian bisnis dibandingkan pengusaha Tionghoa, sehingga seringkali menjadi payung bagi modal Tionghoa dalam praktik ali-baba.
4. Kebijakan Diskriminatif, lingkungan politik yang terkadang tidak ramah terhadap etnis Tionghoa membuat mereka terpaksa mencari perlindungan melalui koneksi politik (patronase), yang akhirnya memupuk praktik rente.
5. Pendidikan dan Budaya, kurangnya fokus pada pendidikan teknis dan inovasi, serta budaya bisnis yang cenderung ingin cepat kaya tanpa melalui proses produksi yang panjang.

1.3. Berlanjut Kapitalisme, Yoshihara Era Sekarang.

Kapitalisme Semu Yoshihara memiliki relevansi yang sangat tinggi di era sekarang, bahkan sering dikutip untuk menjelaskan dinamika ekonomi-politik di Indonesia dan Asia Tenggara modern. Meskipun Orde Baru sudah berakhir, pola kapitalisme yang bergantung pada kedekatan dengan kekuasaan (kroniisme) masih bertransformasi ke era Reformasi dan digital. Berikut adalah relevansi kapitalisme semu Yoshihara di era sekarang:
1. Langgengnya Kapitalisme Kroni (Crony Capitalism)
2. Keterlibatan Aparat dalam Bisnis (Bisnis Militer/Polri)
3. Rendahnya Inovasi Teknologi
4. Ekonomi Kroni Digital dan Startup, meski era digital menawarkan keterbukaan, pola kroni juga muncul.
5. Politik elektoral yang mahal.

1.4. Inti Pokok Globalisasi, Baswir (2009)

Globalisasi penuh dengan pro dan kontranya. Namun dari pembahasan tersebut lebih banyak dampak negatifnya. Nah, untuk menghadapi efek dampak negatif dari globalisasi itu. Ada tiga perlawan terhadap globalisasi, antara lain; perlawanan yang melawan pelaksanaan agenda-agenda globalisasi. Melawan agenda-agenda globalisasi. Jangan sampai konsep globalisasi ditelan begitu saja. Perlawanan terhadap neoliberalisme atau ideologi yang melatarbelakangi globalisasi. Globalisasi bisa disamakan dengan internasionalisasi. Oleh karena itu, system ekonomi untuk menolak globalisasi adalah prinsip ekonomi demokrasi.
Adapun agenda yang harus dilakukan berdasarkan prinsip internasionalisasi.
1. Pertama, pembentukan lembaga-lembaga internasional guna mencegah penularan penyakit, konflik, pengrusakan lingkungan yang memiliki lingkup antar negara.
2. Kedua, penataan ulang tata keuangan internasional, dengan melakukan penusunan mekanisme kebangkrutan internasional untuk memfasilitasi pelaksanaan arbitrase utang antar negara.
3. Ketiga penataan ulang tata kelembangaan bank dunia bank-bank regional.
4. Keempat, penataan ulang WTO melalui perubahan ideologi, perubahan mekanisme pengambilan keputusan.
Ohmae menuliskan, “globalisasi telah menghancurkan budaya-budaya lokal, merobek pasar-pasar di belahan dunia manapun dan merobohkan dinding pembatas antar negara.” Ada pendapatn lain, globalisasi merupakan unsur utama pembentuk tatanan dunia, “bagi mereka globalisasi merupakan kemajuan. Negara-negara harus menerimanya jika mereka ingin berkembang dan memerangi kemiskinan secara efektif.” (Stiglitz, 2012: 6) Hirst & Thompson, (2000:3) menjelaskan, globalisasi menggambarkan pertumbuhan dalam pertukaran internasional dan saling ketergantungan.
Menurut Rosenau global governance (Rossenau, 1992:7) adalah sebuah gerakan yang berupaya mengintegrasikan para aktor transnasional dengan tujuan menyelesaikan permasalahan bersama dan mengambil sebuah keputusan. Global governance bisa berbentuk formal yang memiliki perangkat hukum serta institusi untuk mengatur beragam aktor internasional seperti IMF dan Bank Dunia, maupun berbentuk informal dalam bentuk yang temporal. Global governance semacam IMF dan Bank Dunia masih menyisakan kontroversial terkait peran mereka dalam pembangunan di negar- negara dunia ketiga (Winarno, 2014:204) Dalam konteks global governance, IMF dan Bank Dunia belum mampu menciptakan kesetaraan terutama membantu negara-negara yang terkait krisis, dengan mengambil alih komando manajemen perekonomian negara penerima bantuan. “Setelah krisis Asia pada tahun 1997, kebijakankebijakan IMF malah memperburuk krisis di Indonesia dan Thailand.” (Stiglitz, 2012:24)

1.5. Hubungan Dagang Tarif Ekspor Indonesia Terhadap AS

Tesis Revrisond Baswir umumnya berfokus pada kritik terhadap neoliberalisme, ekonomi kerakyatan, dan pentingnya kedaulatan ekonomi Indonesia. Terkait hubungan dagang dan tarif ekspor Indonesia terhadap AS, relevansi pemikiran Baswir (2009) di tahun 2026 khususnya dalam konteks kebijakan perdagangan AS (seperti era Trump 2.0 yang memberlakukan tarif impor 19% ke Indonesia sangat tinggi, terutama dari sudut pandang kedaulatan dan ketergantungan ekonomi.
Berikut adalah analisis relevansi tesis Baswir (2009) dalam konteks hubungan dagang Indonesia-AS saat ini:
1. Kritik atas ketergantungan ekspor komoditas mentah, Baswir menekankan bahwa ekonomi Indonesia terlalu rentan karena bergantung pada ekspor bahan mentah dan pasar negara maju (seperti AS), yang membuat Indonesia mudah didikte dalam kebijakan dagang.
2. Kedaulatan dalam kebijakan tarif, kebijakan liberalisasi perdagangan seringkali merugikan negara berkembang karena tidak seimbang.
3. Pentingnya Ekonomi Kerakyatan, mengutamakan pasar domestik dan memperkuat UMKM daripada berorientasi total pada ekspor (ekspor-oriented growth).
4. Tantangan perang dagang, ketergantungan pada satu atau dua negara adidaya (seperti AS) menimbulkan risiko tinggi bagi ekonomi Indonesia.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa, tesis Baswir tetap relevan sebagai kritik struktural. Dalam situasi perang tarif AS dan Indonesia pada 2025-2026, pemikiran tersebut mempertegas bahwa Indonesia harus beralih dari sekadar penjual bahan mentah menjadi negara yang berdaulat secara ekonomi, berfokus pada hilirisasi, dan memperkuat pasar domestik.

Daftar Pustaka
Baswir, Revrison. 2009. Kepemimpinan Nasional, Demokratisasi, dan Tantangan Globalisasi. Pustakan Pelajar, Yogyakarta.

Stiglitz, Joseph E., Kegagalan Globalisasi dan Lembaga-Lembaga Keuangan Internasional, (alih bahasa oleh Ahmad Lukman, Jakarta: Ina Publikatama, 2012).

Winarno, Budi, Dinamika Isu-Isu Global Kontemporer, (Jakarta: Center of Academic ublisihing Service, 2014).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *